“Apa Kamu Bilang?!”
Menyatukan dua orang yang berbeda dalam sebuah hubungan pacaran memang tidak pernah mudah. Perdebatan pasti kerap muncul antara kamu dan si dia. Tapi bagaimana supaya debat kamu dan pacar bisa tetap sehat?

Lita (22) dan Bowo (23) sudah hampir satu tahun pacaran, tapi belum ada satu hari pun mereka lewati tanpa berdebat. Ada saja yang membuat mereka protes satu sama lain. Mulai dari pilihan rute jalan menuju tempat kencan, soal film yang mau ditonton di bioskop, juga kebiasaan Bowo main PS sampai lupa waktu atau hobi belanja Lita yang selalu menguras kantong.
Kalau perdebatan hanya berlangsung sesaat, lalu bisa segera selesai dengan baik sih mungkin nggak ada yang perlu dikhawatirkan. Masalahnya, debat-debat ‘kecil’ seringkali berujung pada konflik yang melebar. Yang lebih gawat, perdebatan kecil yang dibiarkan begitu saja juga bisa jadi bom waktu yang meledak sewaktu-waktu.
Jadi bagaimana dong? Apakah kamu dan si dia tidak boleh berdebat? Harus akur senantiasa? Mission impossible, dong. Namanya juga dua orang, dua kepala, dua pribadi yang berbeda. Tentunya kamu dan si dia nggak akan bisa seratus persen sama dan sepakat dalam segala hal.
Perbedaan pendapat antara pacar dengan kamu sebenarnya hal yang sangat wajar. Dan perbedaan tersebut seharusnya menjadi indah dan memperkaya hubungan kalian berdua. Menurut psikolog A. Kasandra Putranto, dengan debat yang sehat kamu dan si dia dapat memiliki wawasan yang lebih luas, fleksibilitas berpikir dan pola sikap yang proaktif.
Percaya deh, kalaupun ada hubungan pacaran yang adem ayem dan tanpa pertengkaran sama sekali, pasti hubungan itu juga nggak sehat dan ‘hambar’.
So, berdebat dengan pacar itu wajar. Yang penting kamu tahu cara-cara yang tepat, supaya debat di antara kalian itu sehat.
The Triggers
Banyak faktor yang bisa menjadi pemicu adu argumentasi antara kamu dan sang pacar. SPICE! menemukan beberapa hal yang paling sering menjadi penyebabnya sebagai berikut:
1.Banyak Perbedaan
Chemistry antara kamu dan si dia sebenarnya sudah oke, tapi kalian punya banyak sekali perbedaan. Misalnya perbedaan karakter dan sifat-sifat dasar. Misalnya yang satu easy going, senang jalan dan kumpul bersama teman-teman, sedangkan yang satu lagi tipe anak rumahan yang lebih suka berduaan saja. Wajar sekali hal seperti ini menjadi pemicu perdebatan di antara kamu dan sang pacar, karena masing-masing ingin pasangan menjadi seperti dirinya.
Bisa saja, kamu mengidolakan seorang tokoh, tapi pacar kamu bilang tokoh itu nggak istimewa. Akibatnya saat kamu sedang bersemangat membicarakan sang tokoh idola, si dia menanggapi dengan dingin, pasti kesal kan? Atau kamu penggemar musik melankolis sementara dia lebih suka musik rock, otomatis kalian akan berbeda pendapat juga soal lagu dan musisi favorit.
2.Hobi dan Kebiasaan
Kamu dan pacar tentu punya hobi dan kebiasaan yang khas, kan? Seringkali hobi dan kebiasaan yang tidak selaras satu sama lain membuat kamu berdebat dengan pacar. Contohnya, Evi (22) sering marah karena sang pacar, Prabu (23) sering malas mandi. Menurut Prabu sih kebiasaannya itu not a big deal selama dia nggak mengganggu orang lain, karena meski tidak mandi dia pakai wewangian supaya nggak bau. Meski begitu, Evi tetap nggak suka dengan kebiasaan pacarnya itu. Atau Albert (25) yang melarang sang pacar, Sonia (24) untuk clubbing. Macam-macam kesukaan atau kebiasaan kamu dan si dia memang bisa ‘bertabrakan’ seperti ini.
3.Masalah Komunikasi
Perdebatan juga sering muncul karena masalah komunikasi. Salah pengertian kerap timbul karena miss communication. Selain itu gaya komunikasi yang berbeda satu sama lain juga bisa memengaruhi. Mungkin cowok kamu cenderung tegas sedangkan kamu agak sensitif, akibatnya kamu mudah tersinggung dengan ucapannya.
The Threats
Perdebatan antara kamu dan sang pacar memang wajar terjadi dan tidak terhindarkan. Tapi bukan berarti nggak berbahaya, lho. Coba saja, kalau setiap saat kamu dan dia terus-terusan adu argumentasi, tentu sangat tidak nyaman. Akhirnya, hubungan kalian malah menjadi beban hidup yang berat. Nggak sedikit teman SPICE! yang putus dari pacarnya karena terlalu sering berdebat.
Saat perdebatan dalam tingkat ringan, mungkin yang timbul hanya rasa tidak nyaman atau kesal. Akan tetapi saat adu argumentasi menjadi lebih serius, biasanya kamu dan si dia akan mulai saling menyakiti. Namanya juga sedang emosi, ucapan dan tindakan biasanya keluar begitu saja tanpa ada pikir panjang.
Makanya, SPICE! mengingatkan kamu untuk tidak memandang remeh soal perdebatan dengan pacar. Perdebatan kecil atau besar, sama-sama bisa berbahaya, makanya harus segera diselesaikan dengan baik.
Meskipun begitu, menurut SPICE! kamu juga jangan menghindari perdebatan dengan pacar seratus persen, Lho kok?! Soalnya, adu argumentasi itu juga berarti kamu dan si dia jujur mengkomunikasikan pendapat. Perdebatan bisa saja dihindari dengan cara salah satu pihak (baca: kamu atau si dia) memilih untuk terus mengalah atau menuruti pasangan. Hubungan seperti ini dari luar bisa saja terlihat harmonis dan rukun, tapi sesungguhnya bisa lebih berbahaya.
Rasa tidak setuju, tidak nyaman, kekesalan, kemarahan atau kesedihan yang terus menerus diredam demi ‘kedamaian’ tanpa debat sebenarnya sangat tidak sehat. Sebab semua perasaan yang teredam tersebut bisa meledak sewaktu-waktu. Jadi kalau memang ada hal yang rasanya nggak pas, kamu boleh kok protes atau mengungkapkan keberatan kepada pacar.
Terlalu banyak dan sering berdebat tidak baik untuk hubungan kamu dan sang pacar. Sebaliknya, tidak pernah berdebat juga tidak benar, karena artinya tidak ada komunikasi dan keterbukaan dalam hubungan.
How to Handle
Supaya kamu dan si dia bisa berdebat sehat dan dalam kadar yang tepat, coba ikuti jurus-jurus SPICE! ini.
- Jujur dan Terbuka
Poin ini tetap menjadi hal terpenting. Jangan pernah takut atau ragu mengungkapkan isi hati atau pendapatmu.
- Menghargai Pacar
Hargailah pacar dengan segala kelebihan, kekurangan, karakter, kebiasaan dan kesukaannya. Kalau ada yang nggak sejalan dengan keinginanmu atau kebiasaanmu sendiri, kamu bisa bilang padanya. Tapi singkirkan jauh-jauh keinginan untuk mengubah dia sepenuhnya mengikuti atau menjadi seperti kamu.
- Toleransi
Ada banyak hal yang memang harus diterima apa adanya. Untuk perbedaan-perbedaan yang nggak bisa disatukan atau diselaraskan maka satu-satunya cara adalah dengan toleransi atau mengalah. Hal ini harus dilakukan dengan benar-benar tulus, suapaya nggak ada ‘hitung-hitungan’ di kemudian hari.
- Introspeksi Diri
Seringkali kamu terlalu sibuk mencari cara membuat pacar jadi cocok dengan dirimu. Sebaliknya, introspeksi diri dan berubah secara positif jarang terpikirkan. Kamu dan si dia nggak harus jadi orang lain, tapi sedikit demi sedikit memperbaiki diri akan sangat baik, bukan hanya demi hubungan kalian tetapi juga bagi peningkatan kualitasmu sebagai individu.
=====================================================================================
Character Clash
SPICE! menemukan bahwa karakter atau sifat dasar kamu dan si dia paling sering jadi pemicu perdebatan dan perselihan. Haruskah salah satu atau kedua pihak berubah sifat demi memertahankan hubungan?
Case #1
Anto (24) termasuk tipe cowok dingin yang nggak bisa menunjukkan perasaannya kepada orang terdekat, termasuk pada Stella (22), pacarnya sendiri. Uniknya, Stella pun punya karakteristik yang hampir sama. Dengan persamaan tersebut di antara mereka, nyatanya perdebatan dan konflik tetap sering terjadi. Pasalnya, justru karena sama-sama cuek dan nggak bisa mengungkapkan perasaan, ketika salah satu atau keduanya lagi bete malah diam-diaman. Masalah seringkali dianggap berakhir dengan sendirinya tanpa dibahas atau diselesaikan dengan benar.
Kuncinya: Meski ada pepatah Silent is Gold, SPICE! bilang hal tersebut nggak berlaku saat kamu dan si dia menghadapi masalah. Masalah kecil yang didiamkan saja justru berpotensi menjadi masalah besar karena disimpan dalam hati kecil masing-masing pihak. Makanya, dua belah pihak harus berusaha menjalin komunikasi yang lebih terbuka.
Case #2
Seperti halnya Anto, Ian (23) juga seringkali memilih diam dan cuek pada pacarnya, Riana (19). Tapi sebaliknya Riana adalah tipe cewek yang ekspresif dan manja. No wonder mereka jadi sering berantem karena nggak nyambung. Selain itu, hubungan mereka pun seakan-akan lebih didominasi oleh Riana, karena Ian lebih banyak diam.
Kuncinya: Sebaiknya dalam sebuah hubungan ada keseimbangan antara kamu dan si dia. Usahakan jangan ada yang terlalu dominan, karena bisa menciptakan rasa ‘menang-kalah’ di antara kalian berdua. Untuk itu, masing-masing pihak harus belajar untuk menyesuaikan diri. Yang dingin harus mulai melatih diri untuk nggak gengsi menunjukkan rasa sayang, rasa kecewa, marah atau minta maaf, misalnya. Begitu pula yang terbiasa manja harus sesekali mengalah. Dua sifat berlawanan seperti ini bisa digunakan untuk saling melengkapi.
Case #3
Sony (24) dan Gwen (24) adalah sepasang kekasih yang sama-sama ekspresif dan terbuka. Setiap permasalahan dan perbedaan pendapat pasti segera dibicarakan. Tapi akibatnya mereka berdua seringkali terlibat dalam perdebatan panjang dimana masing-masing pihak ngotot dan tidak mau kalah.
Kuncinya: Pada dasarnya SPICE! setuju dengan prinsip komunikasi terbuka, dimana setiap ada masalah harus segera dibicarakan dan diselesaikan. Yang perlu kamu ingat, tidak ada orang yang sempurna di dunia ini. Artinya, kamu dan si dia sama-sama punya kelebihan dan kekurangan. Oleh sebab itu, kedua belah pihak nggak boleh egois dan merasa selalu benar. Pengertian yang tulus menjadi faktor yang penting di sini.
***
tulisan ini dimuat di majalah SPICE! edisi Februari 2008. Silakan dikutip atau digunakan, asal mencantumkan sumber yg jelas. Tengkyuuu ^_^