Belakangan
ini para orangtua begitu dikejutkan dengan aksi kekerasan oleh anak-anak yang
seakan menjadi “preman cilik,” bahkan sampai memakan korban jiwa. Beberapa
kasus disinyalir merupakan akibat dari tayangan televisi yang mempertontonkan
kekerasan. Apakah benar demikian?
Istilah bully
atau bullying mungkin sudah tidak
asing di telinga para orangtua. Anak suka memukul atau berkelahi dengan
temannya ternyata bisa dikategorikan sebagai salah satu contoh perilaku bully.
Menurut Herlina Lin, psikolog dari Pusat Krisis Terpadu RSCM, perilaku
bully terdiri atas 2 jenis. Yang
pertama adalah bully yang sifatnya direct, yakni yang langsung dan dapat
dilihat secara nyata. Dalam hal ini anak bersikap agresif, misalnya suka
memukul atau mengancam secara terang-terangan.
Sedangkan
yang kedua adalah perilaku bully yang
indirect. Misalnya dengan
menjelek-jelekkan orang lain, suka berbohong, suka bergosip, memfitnah, bahkan
menciptakan kesan kepada sekitarnya bahwa “I’m
the victim”. Selain itu secara non verbal bully yang sifatnya indirect
juga bisa dilakukan melalui tatapan mata yang mengintimidasi.
Dra.
Clara Kriswanto, MA, CPBc, psikolog
sekaligus Managing Partner dari Jagadnita Consulting, mengingatkan bahwa bully merupakan sikap yang menjadi pola
dan akhirnya menjadi sifat. Jika sikap ini tidak segera diatasi, maka berpotensi
besar menjadi tindakan kriminalitas di masa yang akan datang.
Herlina menceritakan bahwa dirinya
pernah menemukan kasus di mana ada anak yang memar-memar karena dipukuli oleh
temannya di sekolah. Ironisnya lagi, anak ini sudah merupakan korban yang ke 4
dari sang preman cilik. Alasan pemukulan itu sendiri tidak jelas, tidak ada
pemicunya. “Anak itu sedang bermain dan tiba-tiba saja didatangi lalu dipukul.
Itulah bahayanya anak bully dengan
agresivitas tinggi yang sewaktu-waktu bisa meledak tanpa alasan atau pemicu
yang jelas,” paparnya.
Faktor Internal dan Eksternal
Adapun yang bisa menyebabkan anak berperilaku bully menurut Herlina adalah perpaduan
dari faktor internal dan eksternal. “Secara internal, memang setiap orang pada
dasarnya memiliki kebutuhan penyataan diri dan aggressiveness dalam dirinya, hanya kapasitasnya saja yang
berbeda-beda,” papar Herlina. Perilaku bully
dapat terjadi bila kemudian faktor internal ini distimuli oleh faktor-faktor
eksternal. Faktor eksternal yang umumnya paling mempengaruhi adalah keluarga,
lingkungan dan jenis tontonan.
Menurut
Clara, anak bullying itu biasanya datang dari beberapa macam keluarga. Pertama,
keluarga yang sangat memanjakan
anak. “Apa pun keinginan anak dituruti, sehingga anak merasa powerful dan bisa mengatur orang lain.
Hal ini terekam hingga pada waktu sekolah atau bergaul pun anak mencari
teman-temannya yang bisa ditindas atau dimanfaatkan,” paparnya. Dalam hal ini
kasusnya adalah anak menjadi over-confident
atau terlalu percaya diri.
Hal senada juga diungkapkan oleh Herlina. Menurut
pengalaman dari owner dEgaus Consulting
ini, umumnya perilaku bully muncul
pada anak yang memiliki otoritas lebih tinggi daripada anak-anak lainnya. “Anak
ini merasa dirinya ‘lebih’ dalam segala hal, dibandingkan teman-temannya, lebih
menarik, lebih kuat, lebih berkuasa, dan sebagainya,” kata Herlina. Dan hal ini
membuat anak merasa berhak mengatur atau menindas orang lain.
Namun selain itu perilaku bullying juga bisa muncul pada anak-anak yang kurang percaya diri.
“Hal ini bisa datang dari keluarga yang terlihat baik-baik saja, tidak ada
masalah, tapi kenyataannya banyak kebutuhan-kebutuhan emosional yang tidak
didapat oleh si anak, seperti perasaan disayang, diperhatikan, juga rasa
dihargai,” urai Clara.
Tentunya hal ini juga kerap terjadi pada keluarga
yang tidak berfungsi atau broken home
dimana anak memang kurang perhatian. Akibatnya anak memiliki self esteem dan self confident rendah, konsep dirinya pun negatif. “Begitu di luar
(rumah), anak semacam over
kompensasi, mencari pengakuan dan penghargaan diri dari lingkungan sekitarnya,”
tambah Clara lagi.
Faktor lingkungan juga dapat mempengaruhi anak untuk
berperilaku bully melalui berbagai cara. Yang pertama anak bisa meniru perilaku
buruk yang dilihat dari lingkungannya. “Ingat bahwa anak itu imitatif. Anak akan melihat
kebiasaan dan perilaku orang di sekitarnya. Yang pertama perlu dijaga tentunya
keluarga di rumah, kalau ayah atau ibunya agresif, jangan salahkan anak juga
bersikap demikian,” jelas Clara. Begitu pula dengan teman-teman di sekolah atau
lingkungan rumah, mereka akan menjadi teladan yang ditiru oleh anak.
Selain itu lingkungan juga dapat memberikan penguatan
atau reinforcement pada anak untuk
bersikap bully. “Misalnya teman-teman yang ikut
menyaksikan anak berkelahi dan mendukung saat anak menindas teman yang lain,”
kata Clara. Ironisnya, orangtua pun terkadang mendukung, contohnya dengan
berkata “Nah itu baru anak papa, pemberani. Pukul saja!”
Bukan hanya itu, sebenarnya lingkungan yang mengabaikan
atau mentolerir sikap bully anak juga
dapat menjadi penguat. “Guru atau orangtua yang tidak berbuat apa-apa akan
membuat anak merasa bahwa tindakannya tidak salah,” ujar Clara seraya
mengingatkan.
Lebih jauh lagi Clara yang meraih gelar S2 Applied Anthropology & Community & Youth work Goldsmiths
College dari University of London tersebut memaparkan bahwa ada juga kecenderungan anak
yang pernah menjadi korban perilaku bully
pun akhirnya menjadi pelaku karena mencari kompensasi. “Di satu tempat anak
menjadi korban, di tempat lain dia akan mencari orang lain yang lebih tidak
berdaya untuk ditindas sebagai korbannya,” katanya.
Stimulan lainnya dari luar
anak bisa datang dari jenis tontonannya. Serupa dengan contoh dari lingkungan,
anak juga memiliki kecenderungan mengimitasi apa yang dilihatnya dari tayangan
yang ditonton. Sekali lagi orangtua berperan penting untuk benar-benar
mengawasi segala tontonan anak, baik di televisi, games, film bioskop, internet dan lain sebagainya.
Mengidentifikasi Bully
Menurut
Clara, sikap bully berkaitan dengan masalah
pengelolaan emosi yang belum matang, di mana anak tidak bisa mengekspesikan
emosi dengan berbagai variasi cara. “Orangtua perlu memberikan bantuan pada si
anak untuk mengenali penyaluran atau ekspresi emosi yang bermacam-macam.
Misalnya marah itu tidak harus membentak, membanting pintu, banting mainan,
tapi bisa juga dengan cemberut atau menangis,” urainya. Karena tidak mengenal
variasi ekspresi emosi, biasanya anak hanya mengenal cara-cara yang agresif.
Oleh
sebab itu untuk mengidentifikasi perilaku
bully pada anak pun diamati dari agresivitasnya dalam kegiatan anak
sehari-hari. “Waspada bila saat anak marah kemudian bonekanya dipukuli atau
ditusuk-tusuk, atau mainannya dan benda-benda lain dibanting ke lantai,” tegas
Clara. Herlina menambahkan ada pula anak yang
mencekik atau memukul binatang. “Belum lagi kalau objek tindak kekerasannya adalah teman
atau saudaranya sendiri,” lanjut Clara lagi.
Clara
menjelaskan bahwa umumnya perilaku bully mulai terlihat pada anak usia
sekolah. “Pada usia ini anak bersosialisasi dengan teman-teman sebaya, dan biasanya
mulai terlihat sifat anak, apakah lebih agresif atau justru pasif,” jelasnya.
Selain itu ada juga yang
menyebutkan bahwa bully merupakan bagian dari perkembangan anak yang wajar, ketika
usianya sekitar usia 4-5 tahun. Kata Clara pada saat anak mulai bisa melakukan
sesuatu hal sendiri, misalnya makan sendiri, mandi sendiri, atau pakai baju
sendiri, bisa saja keluar semacam sifat memberontak. “Aku tidak mau diatur
lagi, karena aku sudah bisa melakukan sendiri,” begitu kira-kira yang ada di
pikiran anak.
Masa pemberontakan anak ini menjadi
masa yang kritis. Orangtua juga tidak boleh gegabah dengan melabel “anak nakal”
begitu anak memperlihatkan sifat melawan. Sebab ada kalanya pemberontakan itu
dilakukan semata-mata untuk menunjukkan eksistensi dirinya. Bedakan dengan
pemberontakan yang sifatnya manipulatif, apalagi yang sudah menjadi pola atau
kebiasaan. “Anak sudah sangat sering melakukan pemberontakan, selain itu
hubungan selalu tegang antara anak dengan orangtuanya, selalu dalam nada
tinggi, sudah bisa menjadi tanda bahaya,” tegas Clara.
Pencegahan
dan Penanganan Bully
Herlina
menjelaskan bahwa penanganan perilaku bully
pada anak seyogyanya menjadi tanggung jawab dan kerjasama dari berbagai pihak,
antara lain orangtua, pihak sekolah dan komunitas atau lingkungannya. Menurut
Clara, penanganan akan lebih tepat apabila faktor penyebab atau penguat anak
menjadi bully sudah diketahui.
Pada
anak dengan potensi agresivitas tinggi dalam dirinya, Herlina merekomendasikan
agar anak tersebut diberikan pengalihan energi atau tensi melalui berbagai
alternatif kegiatan. “Pilih aktivitas yang sedianya bisa mengembangkan sisi
yang lain dari anak, misalnya di bidang musik, craft, atau olahraga seperti sepak bola dan basket,” jelasnya.
Namun Herlina tidak menyarankan kegiatan bela diri karena menurutnya kegiatan
tersebut berpotensi menjadi reinforcement
dalam perilaku agresif anak.
Hal
lain yang perlu diperhatikan orangtua adalah konsep diri dan keseimbangan rasa
percaya diri anak. “Ciptakan konsep diri yang positif pada anak, buat dia
merasa dicintai, diperhatikan dan dihargai,” kata Clara. Hal ini bisa dilakukan
dengan cara sering memeluk dan mencium anak, juga menciptakan komunikasi
terbuka dan dua arah antara orangtua dengan anak.
Sebaliknya,
berhati-hatilah juga untuk tidak menciptakan percaya diri yang berlebihan pada
anak. “Hindari terlalu mengistimewakan anak, sebisa mungkin ciptakan rasa bahwa
anak adalah juga ordinary people seperti
teman-temannya yang lain,” papar Herlina.
Selain itu orangtua juga
perlu mengajar anak untuk memiliki rasa empati, sehingga anak tidak mudah
mengancam atau bahkan menyakiti orang lain. Dengan
demikian anak belajar menghargai orang lain, dan anak menyadari bahwa dirinya bukanlah
makhluk individualis, melainkan makhluk sosial yang senantiasa membutuhkan
kehadiran orang lain dalam kehidupannya.
Clara
juga mengingatkan tugas orangtua untuk sejak dini mengembangkan emotional quotient (EQ) anak. “Seberapa jauh orangtua sudah memberikan
masukan dan dukungan untuk ekspresi emosi anak?” tanyanya. Salah satu caranya adalah
dengan mengenalkan cara menyalurkan emosi-emosi secara sehat. “Marah boleh,
tapi marah yang bagaimana. Kesal boleh, tapi kesal yang bagaimana. Sedih boleh,
tapi sedih yang bagaimana” urai Clara.
Tidak terbatas pada
emosi-emosi yang negatif, lanjutnya, orangtua juga perlu mengenalkan anak
dengan emosi-emosi positif seperti senang, gembira, bangga, bahagia, puas, dan
sebagainya. Semua jenis emosi anak perlu dihargai, bicarakan mengenai emosi ini
secara terbuka dengan anak. “Orangtua jangan suka berasumsi sendiri. Misalnya
menduga-duga alasan anak marah kemudian merasa ah nanti juga baik lagi,” kata Clara mengingatkan.
Untuk dapat mengembangkan EQ anak,
Clara menambahkan, orangtua harus terlebih dahulu memiliki kepekaan yang
didasari oleh kematangan emosional. “Orangtua baru bisa mendampingi anak untuk
sehat secara emosional, kalau dia sendiri juga sudah bisa mengelola emosi
dengan tepat,” tegasnya. Kalau orangtua masih punya masalah kematangan
emosional, maka hal tersebut harus diatasi terlebih dahulu, kalau perlu dengan
bantuan psikolog. “Bagitu pula jika orangtua merasa sudah cukup memperkenalkan
anak dengan berbagai bentuk ekspresi emosi, namun anak masih juga menunjukkan
kelainan emosi, maka jangan ragu untuk mencari bantuan ke psikolog,” kata
Clara.
===========================================================================
Allan
L. Beane, PhD, penulis buku “The
Bully Free Classroom: Over 100 Tips and Strategies for Teachers” memberikan catatan
penting bagi para orangtua sebagai berikut,
Jika guru anak memberitahu bahwa anak Anda berperilaku bully
terhadap temannya, jangan remehkan, take
it seriously!
- Bicaralah dengan anak. Anak Anda
kemungkinan akan mencoba mengelak (deny)
atau berbohong untuk membuat perilakunya terdengar lebih ‘ringan’, hal ini
normal.
- Jangan menyalahkan anak, jangan
bertanya kenapa hal itu bisa terjadi atau kenapa anak berbuat demikian. Karena
hal ini bisa berujunbg pada kebohongan dan alasan. Tetaplah tenang. Namun
tunjukkan pada anak bahwa Anda tidak setuju dengan perilaku bullying yang diperbuatnya.
- Diskusikan pada anak mengenai
dampak perilaku bullying pada korbannya. Bahkan jika Anda pernah merasakan
pengalaman masa kecil dimana Anda menjadi korban bully, Anda bisa menceritakan perasaan Anda saat itu kepada anak.
- Dukung dan puji upaya anak untuk
berubah. Perhatikan saat anak mematuhi aturan dan berikan feedback yang positif
saat anak melakukan hal yang baik atau menyenangkan orang lain.
- Yakinkan pada anak bahwa Anda
tetap mencintainya. Anda hanya tidak suka pada perilaku bullying-nya.
J Jika anak Anda mengadu bahwa dirinya
diperlakukan sebagai korban bully:
- Percaya pada anak. Tanyakan yang
terjadi secara spesifik dan mendetil, lalu catat.
- Jangan langsung mengkonfrontasi
anak yang berperilaku bully atau orangtuanya. Hal ini bisa mengakibatkan hal
yang lebih buruk.
- Jangan menyuruh anak untuk
berbalik melawan atau membalas dendam. Anak Anda bisa terluka.
- Jangan menyalahkan anak. Perilaku
bullying tidak pernah merupakan kesalahan korbannya.
- Jangan berjanji untuk merahasiakan
tentang bullying tersebut (hal ini bisa menjadi semacam pembenaran kepada
perilaku bully).
- Katakan pada anak bahwa Anda
senang dia menceritakan hal tersebut kepada Anda, dan bahwa Anda akan meminta
gurunya untuk turut membantu mengatasi masalah tersebut.
- Minta waktu khusus dan privat
untuk berdiskusi dengan guru anak sesegera mungkin. Selain anak Anda, jangan
sampai ada murid lain yang mengetahui pertemuan Anda dengan guru. Mintalah
pendapat guru, karena biasanya mereka lebih tahu kondisi di lapangan, terutama
mengenai si pelaku bully tersebut.
- Setelah itu, jika perlu, lakukan
pertemuan antara Anda dan orangtua dari anak pelaku bully, namun dengan guru bertindak sebagai mediator. Jangan terbawa
emosi, berempatilah dan tempatkan diri bahwa orangtua pelaku bully pun pasti tidak senang akan
peristiwa tersebut.
*****
* Artikel ini adalah tulisan Sonya yang dimuat di Inspired Kids edisi Januari 2007. Silakan dikutip atau digunakan sesuai kebutuhan, asal mencantumkan sumber yang jelas. Thx.