s0nYa… all the way!

the stories, the writings, the inspiration, just about everything that pops-up my mind that i don’t mind to be shared… well, yeah, sometimes you may find it rather personal, but i’m sure you’ll find a lesson there.. read only if you’re interested and phhleeeaasseee feel free to drop a comment ;)

Ketika Aku Jomblo

Filed under: LiFe j0uRnaL — sonyatampubolon at 5:03 am on Monday, June 19, 2006

Ketika aku jomblo
Si ini bilang mau jadi ‘abang’ku
Si itu ngga siap berkomitmen
Si anu cuma mau jadi temen tapi mmm..

Ketika aku jomblo
Pengen kayak Wen yang baru jadian
Felling mellow liat Tiwi beli cincin kembar
Jadi sirik waktu Melva dijemput cowonya

Ketika aku jomblo
Rasanya lega, ada kebebasan luar biasa
Tapi kok sepi, ada kehilangan yang tak terkira
Rasanya dimanja dengan begitu banyak kasih sayang dan perhatian
Tapi menyedihkan waktu sadar semuanya semu

My Dad, My Idol.. Truly dedicated for u daddy!!!

Filed under: wRiTin9s.. — sonyatampubolon at 1:19 am on Wednesday, June 14, 2006

* ini tulisanku yg dimuat di www.sahabatnestle.co.id
klo mo baca langsung link ke

http://www.sahabatnestle.co.id/HOMEV2/main/TKSK/TKSK_Remaja.asp


Ayahku, Idolaku

Tembok
kamar Putri (14 th) dipenuhi poster Samsons. Rupanya, dia menggandrungi
band yang tengah naik daun ini. Memang umumnya anak remaja memiliki
tokoh idola. Entah itu penyanyi, bintang film, atlet, ilmuwan atau
tokoh-tokoh lainnya. Siapa idola anak Anda? Apakah David Beckham, Agnes
Monica, Samuel Rizal, Beyonce Knowles, Justin Timberlake atau SBY? Atau
justru seperti Via (15 th) yang mengidolakan ayahnya sendiri? Ayah Via
memang bukan selebritis, tapi ternyata ada hal-hal yang membuatnya
layak jadi idola. "Papaku itu sangat bijaksana dan pintar. Dia sangat
sayang dan baik padaku, tapi tetap bisa tegas," ungkap Via.

 

Pasti setiap ayah akan sangat bangga bila dapat
menjadi idola bagi anak sendiri. Bukan hanya membanggakan bagi sang
ayah secara pribadi, tapi akan sangat baik bila orangtua sendiri yang
menjadi role model bagi anaknya. Sebab seperti yang kita tahu, anak
remaja cenderung mengikuti tingkah laku dan cara hidup idolanya. Kalau
memang Anda menginginkan anak mengidolakan Anda, bisa-bisa saja kok.
Ini rahasianya.

  1. Sediakan waktu bertemu dan bertukar pikiran
    "Ayahku
    seorang pengusaha yang sangat sering keluar kota untuk urusan bisnis.
    Setiap hari dia pergi pagi dan pulang larut malam hingga aku hampir tak
    pernah bertemu dengannya. Terakhir aku berbincang dengannya aku sudah
    tidak ingat kapan. Percakapan terpanjang kami hanyalah 30 menit
    lamanya. Sekarang, aku merasa tidak nyaman bila berada di dekatnya, aku
    tidak ingin berbincang dengannya, dan berharap dia terus sibuk di
    kantornya."

    Tulisan yang berjudul Who is my dad? ini terdapat dalam sebuah situs forum untuk remaja, http://www.rouseindahouse.com/
    Tulisan ini merupakan curahan hati seorang remaja yang merasa tidak
    mengenal ayahnya sendiri, karena minimnya waktu bertemu dan
    berkomunikasi di antara mereka. Kuantitas dan kualitas waktu
    bercengkrama antara anak dengan ayah sangat penting untuk menambah
    kedekatan. Yang paling sederhana, misalnya saat makan malam bersama di
    meja makan.

  2. Terima anak Anda sebagai individu yang memiliki pilihan, selera dan pendapat pribadi
    Memang
    sangat wajar bila ayah menginginkan anak gadisnya berpenampilan rapi,
    manis dan feminin. Namun, bagaimana bila pakaian kesukaan anak ternyata
    kaus oblong, celana jins, dan sandal jepit? Tidak ada salahnya memberi
    masukan pada anak untuk tampil lebih sesuai, khususnya dalam
    acara-acara penting tertentu. Akan tetapi ayah juga perlu belajar
    menerima selera pribadi anaknya tersebut.

    Begitu pula halnya saat anak memilih cita-cita atau jurusan
    studinya, memilih teman, bahkan memilih pacar, ayah harus bisa
    menghargainya. Meskipun Anda menginginkan anak memiliki teman-teman
    atau kekasih yang baik, bukan berarti Anda yang harus memilihkannya.
    Sebelum ayah protes pada teman anak yang terlihat urakan, ada baiknya
    Anda berkenalan dulu dengan mereka.

    Ingatlah untuk selalu mendengarkan terlebih dahulu alasan dan
    pendapat anak, baru memberi masukan atau argumen bila memang ada yang
    tidak sesuai dengan Anda. Sebutkan juga alasan yang jelas saat
    menyatakan pendapat Anda, agar anak bisa lebih mengerti dan menerima,
    bukan sekadar harus menuruti perintah dan larangan dari Anda.

    Perbedaan pendapat memang dapat menjadi pemicu konflik yang sangat
    rentan antara ayah dan anak. Akan tetapi segala sesuatu sebenarnya
    dapat diatasi dengan komunikasi yang terbuka. Ayah sebagai pihak yang
    lebih dewasa seyogyanya memiliki kesabaran yang lebih daripada anak.

  3. Wibawa + Tegas # Galak
    Sebagai
    seorang kepala rumah tangga, sosok ayah diposisikan sebagai seorang
    yang terhormat dan berwibawa. Seringkali untuk menjaga wibawa ini, ayah
    menunjukkan sikap tegas dalam menghadapi segala hal dalam keluarga.
    Tegas itu penting, terutama dalam menyelesaikan berbagai masalah yang
    menyangkut kenakalan remaja. Akan tetapi tegas harus dibedakan dengan
    galak. Emosi yang meledak-ledak, suara keras dan membentak, apalagi
    memukul, itu semua sebaiknya dihindari. Tidak perlu khawatir wibawa
    Anda sebagai ayah berkurang hanya karena kurang galak. Justru, ayah
    yang tegas namun pengertian akan menjadi sosok yang ideal bagi anak.