Ayo suka musik
*Artikel ini tulisan asli Sonya yang tidak diedit, versi editednya dimuat di rubrik Education majalah Inspired Kids edisi Januari 2006. Silakan dikutip seluruh atau sebagian dengan bijak dan sesuai kebutuhan, asalkan mencatumkan sumber dengan jelas, hargailah hasil karya orang lain sekecil apapun itu :). Terima Kasih.
“Sik sik musik saya suka musik, engkau suka musik, s’luruh dunia suka musik.” Penggalan lagu milik Titiek Puspa ini sangat populer karena memang benar musik disukai oleh siapa saja.
Musik adalah bahasa universal atau musik sebagai ekspresi diri, merupakan berbagai pernyataan untuk melukiskan betapa musik mewarnai kehidupan manusia dan dapat diterima di bagian manapun di dunia. Meski dapat dikatakan bahwa semua orang ”suka” musik, namun tak banyak yang memahami dan memiliki kecerdasan musik.
Kecerdasan musik merupakan salah satu dari 8 Kecerdasan pada Teori Multiple Intelligences yang dikembangkan oleh Dr. Howard Gardner, Professor Pendidikan dari Harvard University. Kecerdasan musik mencakup kepekaan dan atau penguasaan terhadap nada, irama, pola-pola, ritme, tempo, instrumen, dan ekspresi musik, hingga seseorang mampu menyanyikan lagu, bermain musik dan menikmati musik.
Pada dasarnya setiap anak memiliki kecerdasan musikal secara alamiah. Menurut penelitian Gardner, bayi usia 2 bulan sudah dapat menyenandungkan nada tinggi dan melodi nyanyian yang didengarnya (misalnya yang disenandungkan ibunya). Di usia 4 bulan bayi sudah mampu mengikuti ritme/irama lagu. Kecerdasan musik alamiah pada anak tersebut bertambah atau justru berkurang tergantung pada lingkungannya.
Menurut psikolog sekaligus Managing Partner Jagadnita Consulting, dra. Clara Kriswanto, MA, CPBC, kecerdasan musik dapat distimulasi sejak dalam kandungan hingga usia 3 tahun, karena pada usia-usia ini otak anak sedang bertumbuh pesat. Imitasi dan eksplorasi terhadap berbagai bunyi, gambar dan gerakan seyogyanya menjadi bagian dari pengalaman sehari-hari. Untuk mengasah kecerdasan bermusik anak-anak, orangtua atau guru dapat secara imajinatif bernyanyi, berbicara, bermain, mendengarkan, menggambar, memahat, menonton, menari dan meniru berbagai gerakan bersama anak-anak.
Kecerdasan musik diindikasikan memiliki banyak pengaruh terhadap perkembangan kognitif dan juga aspek emosional. Bentuk yang paling sederhana misalnya dengan mengenal dan menghafal nada-nada, maka akan dapat mengasah daya ingat dan mengembangkan daya imajinasi anak, yang akan menjadikannya lebih kreatif.
Untuk memperkuat bukti bahwa musik mempengaruhi perkembangan kognisi maka banyak dilakukan penelitian dan percobaan. Salah satunya yang dilakukan oleh Dr. Frances Rauscher dari University of Wisconsin dan Dr. Gordon Shaw dari University of California. Mereka melakukan percobaan terhadap 3 kelompok anak usia preschool: Kelompok pertama memperoleh pelajaran privat piano/keyboard dan menyanyi; kelompok kedua menerima pelajaran privat komputer; dan kelompok ketiga tidak memperoleh latihan khusus apapun. Kelompok anak yang memperoleh latihan piano/keyboard tersebut menunjukkan hasil tes 34% lebih tinggi daripada yang lain (termasuk dari kelompok anak yang belajar komputer).
Menurut Shaw, musik melibatkan rasio, pembagian, proporsi serta daya pikir dalam ruang dan waktu. Berkaitan dengan hal tersebut, musik secara unik menambah fungsi otak yang dibutuhkan dalam mempelajari matematika, sains, catur, serta permesinan. Para peneliti dari University of Munster di Jerman juga menemukan bahwa pelajaran musik bagi anak secara nyata memperluas area otak. Area yang digunakan untuk menganalisis tinggi-rendahnya nada meluas sebesar 25% pada para musisi dibandingkan orang-orang yang tidak pernah memainkan alat musik, area terebut membesar melalui latihan dan pengalaman.
Semakin dini musisi memulai latihan musik, maka akan semakin besar pula area tersebut pada otak. Hal ini umumnya memotivasi para orangtua untuk memasukkan anaknya ke tempat kursus musik sejak dini. Namun seringkali menjadi dilema jika orangtua belum bisa melihat minat dan bakat musik anak, maka akan rasa terpaksa dalam diri si anak jika dimasukkan dalam kursus musik.
Menurut salah satu pengajar senior di Yamaha Music, Elisabeth H. Suryadinata, sebenarnya tidak ada masalah untuk memasukkan anak ke kursus musik meskipun belum terlihat bakat musiknya. Kak Eca, begitu ia biasa dipanggil, memaparkan ”Terkadang minat dan bakat itu baru muncul setelah latihan beberapa lama. Kalaupun akhirnya si anak memang tidak berminat atau berbakat, namun dia telah belajar banyak hal lain dari kelas kursus yang akan berguna,misalnya mengenal not angka.” Masih menurut Kak Eca yang pernah mendalami musik di Jerman ini, dari pengalamannya mengajar mayoritas anak yang cemerlang prestasinya dalam bidang musik juga memiliki prestasi cemerlang di sekolah.
Ingatlah sekali lagi bahwa perkembangan kecerdasan musikal anak sangat tergantung pada lingkungannya, dan salah satu faktor penunjang paling utama tentulah Anda sebagai orangtua. Mulailah sejak dini untuk menstimulasi kecerdasan musik anak Anda.
Tips Aktivitas Stimulasi Kecerdasan Musik Sesuai Usia
0-3 bulan : Berikan mainan yang bila digoyangkan atau digerakkan akan mengeluarkan bunyi; ajak juga si kecil untuk mendendangkan lagu-lagu sederhana. Hal-hal ini akan untuk melatih kepekaan responsnya terhadap suara.
4-6 bulan : Ajak bayi untuk bergerak mengikuti irama musik yang diputar, juga bertepuk tangan sambil menyenandungkan lagu sederhana
6-9 bulan : Pada usia ini Anda dapat lebih interaktif lagi mengajaknya bernyanyi dan menari, sebab si kecil sudah mulai bisa bergumam, selain itu gerakan kaki dan tangannya pun lebih bisa mengikuti irama.
9-12 bulan : Bayi bisa diajak mengeksplorasi alam sekitarnya dan bisa bermain menirukan suara-suara burung, kucing, ayam, anjing, dsb. Atau juga suara-suara orang menjajakan roti, es, bakso, dll.
1-3 tahun : Buatlah permainan-permainan menciptakan musik, misalnya dengan alat-alat makan (piring, sendok, gelas), hal ini dapat membantunya mempelajari irama, lemah-kuatnya nada serta tinggi-rendahnya bunyi. Untuk melatih kepekaan nada anak juga dapat diperdengarkan lagu-lagu dengan irama yang berbeda saat dia makan, tidur, menggambar, atau bermain.
4 tahun ke atas : Stimulasi sederhana seperti memperdengarkan musik atau mengajaknya bernyanyi bersama tetap baik untuk dilakukan. Jika Anda ingin lebih menstimulasi kemampuan musikalnya, anak dapat dimasukkan ke kursus musik atau paduan suara. Dalam hal ini orangtua harus lebih peka mengenali minat dan bakatnya, jangan sampai anak merasa terpaksa dan jangan menetapkan target pencapaian yang terlalu tinggi.